Segala puji hanya untuk Allah Ta’ala, shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rasulallah Shalallahu ‘alaihi wa sallam . Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah dengan benar melainkan Allah Shubhanahu wa Ta’alla semata yang tidak ada sekutu bagi -Nya, dan aku juga bersaksai bahwa Muhammad Shalallahu’alaihi wa sallam adalah seorang hamba dan utusan -Nya. Amma ba’du:
Berikut ini adalah untaian kisah dari perjalanan seorang ulama besar dari kalangan ulama umat ini. Seorang imam dari kalangan para imam yang mendapat petunjuk, dengannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla memperbaharui agama ini, dan melalui tangannya Allah Shubhanahu wa Ta’alla menumpas bid’ah sampai ke akar-akarnya. Beliau adalah seorang ulama dunia pada zamannya, orang tercerdas pada waktunya, belum ada yang menyamai dirinya dalam hal hafalan, ilmu serta amalan.
Beliau adalah Syaikhul Islam Abul Abbas Ahmad bin Syihabudin Abdul Halim bin Majdudin Abul Barakat Abdus Salam bin Abdullah bin Abul Qosim al-Harani Ibnu Taimiyah yang merupakan julukan bagi kakeknya yang paling atas. Lahir para tangal 10 Rabiul Awal tahun 661 H. Adapun al-Harani adalah nisbat kepada sebuah negeri masyhur yang berada diantara negeri Syam dan Iraq.
Beliau berkulit putih, berperawakan tinggi sedang, berdada datar tegap, sedikit beruban, dengan rambut menjulur sampai diatas daun telinga, matanya besar bagaikan lisan ketika berbicara, suaranya emas, fasih, sangat cepat dalam membaca, padanya berhenti dalam hal keberanian serta memaafkan. Beliau hafal al-Qur’an pada usia sebelum baligh, terampil dalam ilmu syari’at dan bahasa arab serta mantiq dan lainnya. Dirinya tidak menikah tidak pula memiliki wanita simpanan, bukan karena tidak menyukai nikah, karena itu merupakan sunah Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, namun, karena kesibukan beliau dengan ilmu, mengajar, dakwah serta berjihad. Beliau menghabiskan seluruh waktu untuk meneliti, membaca, dan menelaah. Seakan dirinya tidak pernah kenyang dan puas akan ilmu, tidak merasa puas dari menelaah, tidak bosan serta capek dari menyibukan diri dengan penelitian ilmu.
Berkata Imam Dzahabi, “Tidaklah aku melihatnya kecuali sedang berada diantara tumpukan kitab”.
Beliau menyusun kitab untuk pertama kalinya pada usia tujuh belas tahun, dirinya termasuk seorang ulama yang berpredikat sepanjang masa disebabkan begitu banyak karya tulis yang beliau hasilkan, sehingga belum pernah didapati dalam sejarah Islam ada orang yang menulis karya ilmiah seperti yang beliau tulis, diperkirakan tulisan yang beliau hasilkan mencapai lima ratus jilid, dengan empat ribu buku tulis atau lebih.
Sampai dikatakan tulisan yang beliau hasilkan pada setiap harinya mencapai empat buku, didalam menulis buku-bukunya beliau selalu mengambil dari hafalan yang dia miliki, dirinya sangat mahir dalam masalah menulis dan cepat dalam menyusun, sehingga hasil tulisannya bila disamakan hampir sama dengan kilatan cahaya mesin. Hasil karya tulisanya sangat sempurna, dengan dibarengi hujjah dan dalil yang kuat, bagus dalam penulisan serta susunan pembahasannya.
Beliau mulai mengajar, sedang usianya pada saat itu masih dua puluh satu tahun setelah kematian bapaknya. Adapun dalam mengajar tafsir maka beliau mulai mengajar pada usia tiga puluh tahun, dan terus berlanjut sampai waktu yang cukup lama, sungguh terkumpul pada dirinya imamah dalam masalah ilmu tafsir dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an. Dimana beliau sangatlah menekuni dan menyukainya secara total sampai dirinya betul-betul menguasai ilmu-ilmu tadi sehingga meninggalkan jauh yang lainnya. Dikisahkan, beliau mempunyai kitab tafsir yang sangat panjang yang berisikan sesuatu yang menakjubkan dan belum pernah ada sebelumnya yang menyamainya.
Beliau terkenal dengan hafalannya yang sangat kuat, setiap perkara yang pernah dihafalnya maka sangat jarang dirinya lupa. Adalah al-Hafidh al-Mizzi sangat mengagungkan gurunya ini dengan pujian yang banyak, sampai kiranya beliau mengatakan, “Tidak pernah terlihat ulama yang semisal dengannya semenjak empat ratus tahun yang lalu”. Kehidupan yang dijalani sehari-harinya dipenuhi dengan kesungguhan, giat dan giat, yang tidak pernah diketahui menyibukan diri untuk bersendau gurau apalagi sampai melakukan akhlak tercela seperti mengunjing atau adu domba. Beliau sangatlah menjauhi dan bersih dari perilaku mengunjing dan mengadu domba ini, belum pernah ada penukilan yang menceritakan dirinya terjatuh dalam permasalah buruk semacam itu. Majelisnya dipenuhi dengan hikmah dan kebaikan dan tidaklah mungkin berani orang yang senang menggunjing untuk melakukannya dimajelis beliau.
Beliau sangat zuhud terhadap dunia, akan tetapi tidak sampai berlebihan, dirinya biasa mendapatkan harta pada tiap tahunnya yang sangat banyak, kemudian beliau menginfakan seluruhnya yang mencapai sampai dua ribu dirham lebih, dan tangannya tidak menyentuh satu dirhampun, tidak mengambil walau hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Beliau biasa mengunjungi orang sakit, mengiringi jenazah, menunaikan hak-hak orang lain, dan sangat baik terhadap orang lain, sehingga dirinya dicintai oleh semua kalangan, baik ulama, orang sholeh, tentara sampai penguasa, para saudagar dan pembesar, serta semua lapisan masyarakat. Disebabkan kontstribusi besar yang bermanfaat pada mereka baik siang maupun malam, dengan lisan maupun tulisannya.
Seringkali beliau diajukan dan ditawari untuk menjadi pejabat dan mempimpin namun dirinya enggan dan menolak, sembari mengatakan, “Carilah orang lain yang lebih cocok dari diriku”. Adapun dalam masalah menyebarkan ilmu, mengoreksi aqidah yang benar, dan mengembalikan manusia kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, maka mereka lebih membutuhkannya dari pada jabatan serta tawaran tadi. Begitu pula seringkali beliau ditawari hadiah serta hibah akan tetapi beliau menolaknya, karena dirinya paham kalau sekiranya diambil tentu akan sulit bergerak dan melemahkan dalam menolak kebatilan serta akan suka menjilat. Dan ini merupakan metodenya Imam Ahmad bin Hanbal.
Dikisahkan dalam biografi beliau, dirinya dipenuhi materi dunia akan tetapi beliau menolaknya, sehingga beliau hanya mencukupkan sedikit. Dan dalam hal ini saudaranya Syarifudin yang mengurusi kebutuhannya. Berkata syaikh Abu Bakar Abu Zaid mengomentari hal ini, “Dan ini merupakan pelajaran bagi kita, bahwa tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang dua hal yang saling bertentangan, sebagaimana ddikatakan:
Cinta terhadap kitab dan senang pada nyanyian
Tidak mungkin terkumpul dalam hati seorang hamba
Maka kecintaan terhadap ilmu lalu menyibukan hati dan anggota badan demi harta, mengumpulkan serta meperbanyak maka tidak mungkin terkumpul dalam hati seseorang, sehingga setiap kali ada porsi serta usaha dan waktu yang engkau luangkan melebihi dari yang lainnya maka akan hilang yang satunya, cukuplah hal ini membuat kita menangis”.[1]
Adapun sikap beliau bersama penguasa, maka beliau sangat sering di dalam memberi nasehat, menyuruh perkara ma’ruf dan melarang perbuatan mungkar, diantara yang tercatat dalam sejarah adalah sikapnya yang begitu besar dalam menghancurkan keberadaan orang-orang atheis dan Bathiniyah sebagaimana yang terjadi pada peristiwa Syaqhab dan al-Kasrawan. Demikian pula sikap beliau ketika berhadapan dengan Ghazan hingga dirinya dijuluki “Khalidiyah nisbat kepada Pedang Allah yang terhunus” karena keberaniannya bersama Khalid bin Walid Radhiyallahu ‘anhu.
Dikisahkan, pada tahun 699 H terjadi peristiwa genting, yakni datangnya Raja Ghazan ke negeri Damaskus. Maka segera Syaikhul Islam keluar mendatanginya lalu bertemu dengannya dan mengajak bicara bersamanya secara kasar. Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah mencukupi dirinya dari keburukan tangan Ghazan. Yaitu tatkala dirinya meminta kepada penerjemah raja Ghazan, katakan padanya, “Engkau mengira dirimu seorang muslim, dan bersamamu qodhi, imam, dan syaikh, sedangkan kalian menyakiti dan memerangi kami seperti sekarang ini. Adapun ayah dan kakekmu, keduanya adalah kafir, akan tetapi keduanya tidak melakukan seperti yang kamu lakukan sekarang ini, keduanya membuat perjanjian dan memenuhinya, adapun engkau, membuat perjanjian namun engkau langgar sendiri, dan saya katakan engkau tidak memenuhinya sama sekali”.
Beliau menyeret beberapa perkara bersama Ghazan dan Qathlusyah serta Bulari yang beliau lakukan semuanya karena Allah Ta’ala, beliau mengatakan kebenaran tanpa ada rasa takut sedikitpun kecuali kepada Allah Shubhanahu wa Ta’alla. Suatu ketika seluruh qodhi Damaskus serta tokoh-tokoh pembesar hadir pada majelisnya Ghazan, kemudian raja Ghazan menjamu mereka dengan berbagai makanan, lalu mereka semua menyantap jamuan tersebut kecuali Ibnu Taimiyah, beliau tidak ikut memakannya, maka ditanyakan padanya, “Kenapa engkau tidak ikut makan? Beliau menjawab, “Bagaimana mungkin aku memakan makanan ini sedang kalian mengambilnya dengan merampas milik masyarakat, kemudian yang kalian masak adalah hasil dari rampokan harta mereka”. Kemudian Raja Ghazan meminta pada beliau supaya dido’akan kebaikan, maka beliau mengatakan dalam untaian do’anya, “Ya Allah, jika sekiranya Engkau mengetahui kalau dirinya perperang hanya untuk menegakkan kalimat Allah Shubhanahu wa Ta’alla biar tinggi dan berjihad di jalan -Mu, maka teguhkan serta tolonglah dirinya. Dan jikalau tujuannya hanya untuk kekuasaan, dunia dan memperbanyak harta, lakukan lah sekehendak -Mu…kemudian beliau pun mendo’akan dirinya dan raja Ghazan mengamini do’a tersebut. sedangkan para qodhi tadi yang datang bersamanya merasa takut bila sampai membunuhnya, maka mereka langsung merapikan pakaian, takut kalau kiranya raja Ghazan murka lalu membunuhnya sehingga darahnya Ibnu Taimiyah menimpa mereka.
Maka tatkala mereka keluar dari hadapan sang Raja, berkata pimpinan para pembesar Qodhi yang bernama Ibnul Shashari kepada Ibnu Taimiyah, “Hampir saja engkau membunuh kami semua bersamamu, maka mulai sekarang kami tidak ingin menemanimu kembali”. Maka dijawab sama beliau, “Demikian juga mulai dari sekarang aku pun tidak ingin menemani kalian”.
Beliau di jebloskan ke dalam penjara Qol’ah di Damaskus pada akhir hayatnya, maka beliau tinggal didalamnya sambil menulis, dan mengirim surat kepada para sahabatnya, sambil mengatakan bahwa dirinya mendapat karunia ilmu yang Allah Shubhanahu wa Ta’alla bukakan untuknya dari berbagai macam ilmu yang sangat besar faidahnya.
Beliau mengatakan, “Sungguh Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membuka untukku dalam penjara ini, beberapa kali dari makna-makna al-Qur’an dan pokok-pokok ilmu lainya yang sangat banyak, dimana banyak dari kalangan para ulama mengharap untuk bisa memahaminya. Dan aku sangat menyesal karena telah banyak menyia-yiakan waktuku yang aku habiskan bukan untuk mempelajari makna al-Qur’an”. Selanjutnya beliau dilarang untuk menulis, sehingga tidak ada satu pun disisinya alat untuk menulis, seperti kertas dan pena. Kemudian setelah itu beliau menyibukkan diri untuk membaca, bermunajat dan dzikir kepada Allah azza wa jalla.
Imam Ibnu Qoyim, muridnya menceritakan, “Aku pernah mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mensucikan ruhnya dan menyinari kuburnya-, berkata, “Sesungguhnya didunia ada surga, barangsiapa yang diharamkan untuk memasukinya maka tidak akan mungkin masuk ke dalam surga yang di akhirat”. Suatu ketika beliau juga pernah bertanya padaku, “Apa yang diperbuat oleh musuh-musuhku terhadap diriku? Diriku adalah surgaku dan tamanku berada didalam dadaku, dimanapun diriku pergi dia akan selalu bersamaku dan tidak akan berpisah denganku. Adapun bagiku penjara adalah tempat untuk menyendiri bersama Allah Shubhanahu wa Ta’alla, ketika aku dibunuh maka mati syahid bagiku, ketika mereka mengusir dari negeriku maka itu seperti bertamasya”.
Dan ketika di dalam penjara beliau berkata, “Kalau seandainya diganti sepenuh penjara ini dengan emas niscaya tidak ada bandingannya bagiku untuk mensyukuri nikmat di penjara ini”. atau ucapan beliau, “Niscaya aku tidak mampu membalas mereka, karena dengan sebab mereka aku memperoleh kebaikan yang sangat banyak…atau ucapan beliau yang senada dengan ini. Ketika beliau sujud di dalam sholatnya beliau biasa berdo’a, “Ya Allah, tolonglah diriku untuk berdzikir kepada -Mu, untuk bersyukur kepada -Mu dan untuk beribadah dengan baik kepada -Mu”.
Suatu ketika beliau pernah menuturkan, “Orang yang terpenjara ialah yang terpenjara hatinya dari mengenal Rabbnya, dan orang yang tertawan ialah yang tertawan oleh hawa nafsunya”. Manakala beliau masuk ke dalam penjara Qol’ah dan berada didalamnya, beliau melihat sekelilingnya sembari membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala:
قال الله تعالى: ﴿ فَضُرِبَ بَيۡنَهُم بِسُورٖ لَّهُۥ بَابُۢ بَاطِنُهُۥ فِيهِ ٱلرَّحۡمَةُ وَظَٰهِرُهُۥ مِن قِبَلِهِ ٱلۡعَذَابُ
“Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa”. [Al-Hadiid/57: 13].
Beliau adalah orang yang banyak beribadah, senantiasa membasahi lisannya untuk berdzikir, sampai tidak ada yang mampu menggantikan kebiasaan ini dari kesibukan apapun tidak pula ada yang memalingkannya.
Imam Ibnu Qoyim mengkisahkan, “Aku pernah datang untuk melakukan sholat shubuh bersama Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, setelah selesai beliau duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala hingga mendekati pertengahan siang, setelah itu beliau berpaling kepadaku sambil berkata, “Inilah makananku kalaulah sekiranya aku tidak memberi makanan ini pada tubuhku maka aku akan jatuh lemas, atau ucapan yang mirip dengan ini. Beliau juga pernah berkata padaku, “Aku tidak pernah meninggalkan untuk berdzikir kecuali hanya sekedar menghilangkan kepenatan dan istirahat sejenak untuk bersiap-siap melakukan dzikir yang lainnya. Atau ucapan yang semkna dengan ini.
Dan Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengetahui, belum pernah aku melihat seorangpun yang lebih baik kehidupannya dari beliau sebelumnya, walaupun dirinya dipenjara dan diancam serta ditekan namun bersamaan dengan itu beliau adalah orang yang paling baik penghidupannya, paling lapang dadanya, paling teguh hatinya, dan paling berbahagia jiwanya, terpancar pada pandangan matanya kenikmatan yang tiada tara. Dan kami, biasanya tatkala sedang merasa gundah dan berprasangka buruk serta terasa sempit dunia tempat berpijak ini, maka kami mendatangi beliau. Dan tidaklah ketika kami melihatnya serta mendengar nasehatnya melainkan segera hilang kegundahan dan segala permasalahan tersebut, lalu berubah menjadi ketenangan, merasa kuat, yakin dan tentram. Maha suci Allah Shubhanahu wa Ta’alla, bagi orang dari kalangan para hambaNya yang menyaksikan surga-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya. Allah Shubhanahu wa Ta’alla telah membukakan untuk meraka pintu-pintu surga di dunia ini, negeri untuk beramal, lalu datang kepada mereka bau harumnya, anginnya serta keindahannya, sehingga mendorong kekuatannya untuk menggapai surga dan berlomba-lomba untuk merengkuhnya”.
Beliau pernah berkata, “Aku halalkan kehormatanku bagi tiap orang yang pernah menyakitiku, akan tetapi barangsiapa yang menyakiti Allah Shubhanahu wa Ta’alla dan Rasul -Nya, demi Allah pasti aku akan membalasnya”. Berkata Qodhi Ibnu Makhluf, dia adalah salah seorang musuhnya, “Kami belum pernah melihat orang yang paling bertakwa melebihi Ibnu Taimiyah, tidak ada kesempatan bagi kami untuk memusuhinya pasti kami lakukan, akan tetapi, tatkala beliau mampu membalasnya beliau memaafkan kami”.
Adapun meninggalnya beliau dikarenakan ketika masih berada didalam penjara Qol’ah pada dini hari malam senin tanggal 20 Dzulqo’dah tahun 728 H. sebelumnya beliau sakit demam selama tujuh belas hari. Beliau meninggal tepat pada waktu sepertiga malam terakhir. Setelah tersebar berita kematiannya maka berkumpul di penjara Qol’ah manusia yang sangat banyak dari kalangan teman dan murid-murid beliau, sambil menangisi serta memujinya. Dan saudaranya Zainudin Abdurahman mengabarkan pada mereka bahwa dirinya bersama beliau semenjak dijebloskan ke dalam penjara, mereka berdua telah menghatamkan al-Qur’an sebanyak delapan puluh kali.
Dan hampir menyelesaikan yang ke delapan puluh satunya akan tetapi ketika sampai pada firman Allah ta’ala beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir:
قال الله تعالى: ﴿ إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِي جَنَّٰتٖ وَنَهَرٖ ٥٤ فِي مَقۡعَدِ صِدۡقٍ عِندَ مَلِيكٖ مُّقۡتَدِرِۢ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa”. [al-Qomar/54: 54-55].
Sungguh terkumpul pada saat itu manusia yang mengikuti sholat jenazah beliau lautan masa yang begitu banyak sampai diperkirakan dari kalangan laki-lakinya enam puluh ribu orang atau lebih sampai dua ratus ribu orang. Dari kalangan wanita lima belas ribu orang, dan ini mengingatkan kita pada ucapannya Imam Ahmad yang mengatakan kepada ahli bid’ah, “Perjanjian kami bersama kalian adalah ketika sholat jenazah”.
Dikisahkan banyak mimpi orang sholeh yang mengabarkan kebaikan untuknya. Kemudian dilaksanakan pula pada sebagian besar negeri kaum muslimin sholat ghoib, baik negeri yang berdekatan maupun yang jauh sampai di negeri Yaman dan China. Dikabarkan bahwa orang-orang yang sedang safar mendengar panggilan diperbatasan China untuk melaksanakan sholat ghoib untuk beliau pada hari jum’at, dikatakan dalam panggilan tersebut, “Sholat untuk penerjemah al-Qur’an”.[2] Semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla merahmati Syaikhul Islam, dan memberinya balasan atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan. Dan semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla mengumpulkan kami dan beliau di negeri yang penuh kenikmatan bersama para Nabi, shidiqin, para syuhada dan orang-orang sholeh, dan mereka adalah sebaik-baik teman
Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya. Akhirnya kita ucapkan segala puji bagi Allah Shubhanahu wa Ta’alla Rabb semesta alam. Shalawat serta salam semoga Allah Shubhanahu wa Ta’alla curahkan kepada Nabi kita Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kepada keluarga beliau serta para sahabatnya.
[Disalin dari مواقف مؤثرة من سيرة شيخ الإسلام ابن تيمية Penulis Syaikh Amin bin Abdullah asy-Syaqawi, Penerjemah : Abu Umamah Arif Hidayatullah, Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad. Maktab Dakwah Dan Bimbingan Jaliyat Rabwah. IslamHouse.com 2014 – 1435]
______
Footnote:
[1] al-Jami’ li Siroti Syakihil Islam Ibnu Taimiyah hal: 26-27.
[2] al-Jami’ li Siroti Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah karya Syaikh Muhammad Aziz Syams dan Syaikh Ali al-Imrani dengan pengawasan dari Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zaid.
Daftar Isi
Nama
Julukan
Kunyah
Kelahiran dan masa kecil
Guru-guru
Murid-murid
Akidah
Mazhab
Nama
Abu Al-Abbas Ahmad bin Syekh Imam Shihabuddin Abi Al-Muhassin Abdulhalim bin Syekh Imam Majduddin Abi Al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdullah bin Abi Al-Qasim Al-Khadr bin Muhammad bin Taimiyyah bin Al-Khadr bin Ali bin Abdullah An-Namiri. [1]
Julukan
Beliau dikenal dengan julukan “Syekh Islam” dan “Ibn Taimiyyah,” dan sering kali kedua julukan tersebut digabungkan menjadi “Syekh Islam Ibn Taimiyyah.”
Kunyah
Beliau dikenal dengan kunyah “Abu Al-Abbas,” meskipun beliau tidak menikah. Hal ini berdasarkan sunah Nabi yang menganjurkan bagi setiap muslim untuk menggunakan kunyah, meskipun tanpa memiliki anak atau masih kecil. Sebagaimana diriwayatkan oleh Aisyah Ummul Mu’minin radhiyallahu ‘anha, beliau bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ya Rasulullah, mengapa semua istri-istrimu memiliki kunyah, kecuali aku?” Nabi menjawab, “Gunakanlah kunyah dengan menyebut anakmu, Abdullah (yaitu, anak Az-Zubair).” [2] Dan dalam hadis lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada seorang anak yang disebutkan “Abu Umair”, “Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh nughair (burung peliharaan kecilnya)?” [3]
Kelahiran dan masa kecil
Imam Ibnu Taimiyah lahir pada hari Senin, 10 Rabiulawal tahun 661 H di Harran. [4] Beliau lahir dalam keluarga yang terkenal dengan ilmu dan ketakwaan. Keluarga beliau memiliki tradisi panjang dalam ilmu pengetahuan dan banyak di antara mereka yang menjadi imam di masjid-masjid besar. Ayahnya, Imam Abdulhalim, dan kakeknya, Imam Majduddin, adalah ulama terkenal yang mengajarkan akidah dan fikih menurut mazhab Hanbali. Imam Ibn Taimiyah tumbuh dalam keluarga yang sangat menghargai ilmu dan menjadi tempat bagi anak-anaknya untuk berkembang dalam berbagai bidang ilmu, termasuk ilmu syariat, fikih, hadis, dan bahasa Arab.
Imam Ibnu Taimiyah tumbuh di lingkungan yang sangat mendukung pengembangan ilmu, yang memberikan pengaruh besar dalam dirinya. Sejak kecil, beliau telah menunjukkan kecerdasan dan bakat luar biasa dalam ilmu pengetahuan. Beliau menyelesaikan hafalan Al-Qur’an pada usia muda, lalu melanjutkan untuk menghafal hadis, mempelajari fikih, dan bahasa Arab. Beliau rajin menghadiri majelis-majelis ilmiah, berdiskusi, memberi fatwa, dan mengajarkan orang lain, meskipun usianya masih muda.
Lingkungan yang penuh dengan ilmu dan kebajikan sangat memengaruhi perkembangan kepribadian dan kecerdasannya. Imam Ibn Taimiyyah dibesarkan dengan semangat kuat untuk mencari ilmu dan membela ajaran Islam, terutama dalam menghadapi permasalahan-permasalahan fikih dan akidah. Beliau belajar dengan sangat tekun dan berdedikasi, yang tercermin dalam karya-karya dan fatwa-fatwanya yang mempertahankan kemurnian ajaran Islam. Semangatnya untuk terus menggali ilmu sejak usia muda menjadikannya seorang imam besar yang dihormati hingga hari ini. [5]
Kepribadian luar biasa seperti Imam Ibnu Taimiyah menunjukkan bahwa ia memiliki banyak sumber pengetahuan cabang ilmu yang dipelajari. Hal ini menegaskan bahwa beliau menerima ilmu dari banyak guru, baik pria maupun wanita, yang beragam sesuai dengan luasnya bidang ilmu yang dipelajarinya. Diriwayatkan bahwa beliau belajar dari lebih dari 200 guru [6] pria dan empat guru wanita.
Di antara guru-gurunya adalah:
Pertama: Imam Ibn Abd Al-Da’im
Kedua: Ayahnya sendiri, Syihabuddin Abu al-Mahasin Abdulhalim bin Abd al-Salam Ibn Taimiyyah.
Ketiga: Imam Abdulrahman bin Muhammad bin Qudamah
Keempat: Syekh Ali Al-Shalihi
Kelima: Syekh Afifuddin Abdulrahman bin Faris Al-Baghdadi
Keenam: Syekh Al-Manja Al-Tiyukhi
Ketujuh: Syekh Muhammad bin Abdulqawi
Kedelapan: Syekh Syarafuddin Al-Maqdisi
Kesembilan: Syekh Al-Wasiti
Kesepuluh: Syekh Muhammad bin Ismail Al-Syaibani
Dari kalangan wanita, beliau juga belajar dari:
Pertama: Bibi beliau, Sitt Al-Dar.
Kedua: Syekhah Ummu Al-Khair Al-Dimasyqiyyah.
Ketiga: Syekhah Ummu Al-Arab.
Keempat: Syekhah Ummu Ahmad Al-Haraniyyah.
Kelima: Syekhah Ummu Muhammad Al-Maqdisiyyah.
Guru-guru tersebut memberikan pengaruh besar pada keilmuan, akhlak, dan kepemimpinannya, yang kemudian mengokohkan kecerdasan dan kebrilianan beliau.
Murid-murid
Ibnu Taimiyah memiliki banyak murid yang mendapatkan manfaat dari ilmunya. Murid-murid beliau tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga mengambil metodologi pemikiran dan kebijaksanaan dari beliau. Banyak di antara mereka yang kemudian menjadi imam besar di bidangnya masing-masing. Di antara murid-muridnya adalah:
Pertama: Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah
Kedua: Imam Al-Dzahabi
Ketiga: Imam Ibn Katsir
Keempat: Al-Hafidz Al-Bazzar
Kelima: Imam Ibn Abdulhadi
Keenam: Syekh Al-Wasiti
Ketujuh: Syekh Ibn Al-Wardi
Kedelapan: Syekh Ibn Rasyiq
Kesepuluh: Imam Ibn Muflih
Akidah
Ibnu Taimiyah memegang teguh akidah salaf saleh, yaitu akidah ahli sunah waljamaah, yang berlandaskan pada ajaran Nabi Muhammad ﷺ dan generasi awal Islam, dalam tiga generasi terbaik yang disebutkan dalam sabda Nabi,
خير أمَّتي قرْني، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم
“Sebaik-baik umatku adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka, lalu generasi setelah mereka.“[7]
Akidah ini bersumber pada Al-Qur’an dan Sunah yang sahih, serta penafsiran para sahabat, tabiin, dan tabi’ut tabi’in dari tiga abad pertama Islam yang penuh keutamaan.
Imam Ibnu Taimiyah tidak pernah mengaitkan akidahnya dengan individu atau mazhab tertentu, termasuk mazhab Hanbali yang menjadi panduannya dalam fikih. Sebaliknya, ia menyeru kepada komitmen pada akidah salaf tanpa fanatisme terhadap mazhab tertentu. Dalam salah satu pernyataannya, beliau menegaskan,
أما الاعتقاد، فإنَّه لا يُؤخذ عني ولا عمَّن هو أكبرُ مني؛ بل يؤخذ عن الله ورسوله – صلَّى الله عليه وسلَّم – وما أجمع عليه سلفُ الأمَّة، فما كان في القرآن وجَب اعتقادُه، وكذلك ما ثبَت في الأحاديث الصحيحة، مثل صحيحي البخاري ومسلم… وكان يَرِدُ عليَّ مِن مصر وغيرها مَن يسألني عن مسائلَ في الاعتقاد أو غيره، فأُجيبه بالكتاب والسُّنة، وما كان عليه سَلفُ الأمة
“Adapun akidah, maka tidak boleh diambil dariku atau dari siapa pun yang lebih besar dariku. Akidah hanya diambil dari Allah dan Rasul-Nya ﷺ, serta dari apa yang disepakati oleh salaful-ummah ini. Apa yang terdapat dalam Al-Qur’an wajib diyakini, demikian pula apa yang sahih dari hadis-hadis, seperti yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim… Dan datanglah kepadaku orang-orang dari Mesir dan tempat lainnya yang menanyakan kepadaku tentang berbagai persoalan, baik dalam hal akidah maupun yang lainnya. Maka, aku menjawab mereka dengan (berdasarkan) Al-Qur’an dan Sunah, serta apa yang telah menjadi pegangan salaf saleh.” [8]
Mazhab
Ibnu Taimiyah tumbuh, belajar, dan dididik berdasarkan prinsip-prinsip mazhab Hanbali. Ayah dan kakeknya, bahkan keluarganya secara keseluruhan, merupakan tokoh-tokoh besar mazhab Hanbali di Damaskus dan wilayah Syam. Namun, dia tidak membatasi studinya hanya pada mazhab Hanbali saja, melainkan mempelajari juga mazhab-mazhab fikih lainnya. Pada akhirnya, di masa akhir hidupnya, ia tidak terikat pada satu mazhab tertentu. Dia memberikan fatwa berdasarkan pendapat yang menurutnya paling kuat dalilnya. Meski demikian, dia tidak bersikap fanatik terhadap satu imam, guru, atau mazhab tertentu. Ibnu Taimiyyah berpendapat bahwa hal yang diperbolehkan bagi umat Islam untuk mengikuti pendapat salah satu ulama selama tidak diyakini bahwa pendapat tersebut salah.
Ketika muridnya, Al-Hafizh Al-Bazzar, memintanya menyusun kitab fikih yang mengumpulkan pilihan dan pendapatnya sebagai rujukan utama dalam fatwa, dia menjawab, “Masalah cabang (furu’) itu perkara yang ringan. Siapa saja yang mengikuti salah satu ulama yang berkompeten dalam hal ini, diperbolehkan baginya untuk mengamalkan pendapatnya, selama dia tidak yakin bahwa pendapat tersebut keliru.” [9]
Ibnu Taimiyah juga menyebut bahwa perbedaan pendapat di kalangan ulama adalah rahmat yang luas. Beliau berkata,
ولهذا كان بعضُ العلماء يقول: إجماعهم حُجَّة قاطعة، واختلافهم رحمة واسعة
“Oleh karena itu, sebagian ulama mengatakan, ‘Ijma’ mereka adalah hujah yang pasti, dan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas.’”
Ibnu Taimiyah juga menekankan pentingnya tidak memaksakan satu mazhab tertentu kepada umat. Dia mengutip sebagian ulama Syafi’i yang berkata, “Tidak seorang pun boleh memaksa orang lain untuk mengikuti pendapatnya dalam masalah-masalah ini, tetapi dia harus berbicara dengan pendapat yang ilmiah. Siapa pun yang memahami kebenaran dari salah satu pendapat, dia boleh mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti kepada pendapat lainnya, tidak ada kecaman baginya.” [10]
Meskipun begitu, Ibnu Taimiyah sangat menghormati para imam mazhab, membela mereka, dan melarang mencela mereka. Dia menegaskan bahwa perbedaan pendapat di kalangan mereka muncul dari hasil ijtihad masing-masing. Ibnu Taimiyah menjelaskan hal ini dalam risalahnya yang terkenal Raf’ul Malam ‘an al-A’immatil A’lam.
_______
Catatan kaki:
[1] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, (jilid 1, hal. أ), Dr. Bakr bin Abdullah Abu Zaid, Al-Madkhal ila Atsar Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah, hal. 15.
[2] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, 6: 151, 186, dan disahihkan oleh Syekh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah (1: 45), no. 132.
[3] Muttafaqun ‘alaihi.
[4] Op.Cit.
[5] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 17, 19, dengan diringkas dan beberapa perubahan.
[6] Disebutkan Imam Ibn ‘Abd Al-Hadi dalam kitabnya Al-‘Uqud Al-Durriyyah, hal. 6.
[7] Muttafaqun ‘alaihi.
[8] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Al-Fatawa, Muqaddimah Jami’ Al-Fatawa, 3: 161.
[9] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A’lam Al-‘Aliyyah, hal. 33, dengan beberapa perubahan.
[10] Imam Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, 30: 80.
________
Daftar Isi
Sifat fisik
Akhlak dan sifat-sifatnya
Keutamaan berbagi, meskipun dalam keadaan miskin
Kedermawanannya
Ke-wara’-annya
Kecerdasannya
Tawadhu‘ dan tidak sombong
Pengangkatannya sebagai pengajar
Wafat
Perkataan ulama tentang Ibnu Taimiyah
Sifat fisik
Ibnu Katsir menyebutkan perkataan Imam Al-Dzahabi dalam kitabnya, “Ia berkulit putih, memiliki rambut dan janggut hitam, sedikit beruban, suaranya keras dan jelas, rambutnya sampai ke ujung telinga, fasih berbicara, matanya tajam seakan-akan matanya bisa berbicara, tubuhnya sedang, dengan jarak antara bahunya yang lebar, kadang tampak tegas, namun ia bisa mengendalikan tegasnya dengan kesabaran.” [1]
Al-Hafiz Al-Bazzar berkata, “Sesungguhnya sangat jarang terdengar seseorang seperti beliau.” [2]
Akhlak dan sifat-sifatnya
Akhlaknya terpancar melalui penerapan dan pengamalan Al-Qur’an dan Sunnah, sehingga tampak dalam cara berinteraksi dan hubungan baiknya dengan orang lain. Berikut adalah beberapa akhlak yang dimiliki oleh Imam Ibn Taimiyah:
Keutamaan berbagi, meskipun dalam keadaan miskin
Meskipun hidup sederhana, Imam Ibn Taimiyah selalu mengutamakan orang lain dengan apa yang ia miliki, baik itu sedikit atau banyak. Ia bahkan tidak meremehkan sedikit pun yang ia miliki dan tetap mendermakan apa yang ada, bahkan jika ia tidak memiliki apa-apa, ia akan melepaskan sebagian pakaiannya untuk diberikan kepada orang miskin. Suatu ketika, ia melihat seorang pria membutuhkan penutup kepala, dan tanpa diminta, ia membagi sorbannya menjadi dua bagian: satu untuk dirinya dan satu untuk pria tersebut. [3]
Kedermawanannya
Imam Ibn Taimiyah dikenal sangat dermawan. Beliau memberikan apa saja yang diminta darinya, seperti uang, pakaian, buku, dan lainnya. Suatu ketika, ada seseorang yang meminta sebuah buku untuk dipelajari, dan beliau memerintahkan orang tersebut untuk memilih buku apa saja. Bahkan, beliau tidak ragu memberikan buku yang sangat berharga yang baru saja ia beli. Beliau juga sangat dermawan dalam menyebarkan ilmu, menjelaskan perbedaan pendapat para ulama, dan memberikan jawaban lebih dari yang diminta, untuk memberi manfaat lebih banyak kepada orang yang bertanya. [4]
Ke-wara’-annya
Imam Ibn Taimiyah memiliki sifat wara‘ yang sangat tinggi. Ia tidak terlibat dalam urusan jual beli, bisnis, atau urusan duniawi lainnya, serta tidak menerima hadiah atau uang dari pemerintah atau penguasa. Hidupnya sangat sederhana dan segala yang ia miliki hanya ilmu yang ia wariskan kepada umat. Beliau mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak mewariskan uang atau harta, melainkan ilmu yang bermanfaat bagi umat.[5]
Kecerdasannya
Imam Ibn Taimiyah diberkahi dengan kemampuan memahami masalah dengan sangat cepat. Banyak orang yang menyaksikan beliau memberikan jawaban dan solusi tepat sebelum mereka sempat bertanya. Beliau juga dikenal mampu mengetahui keadaan orang lain tanpa diberitahu, seperti saat seorang pria yang baru tiba di kota dan sakit, beliau sudah mengetahui dan menolongnya. [6]
Tawadhu‘ dan tidak sombong
Imam Ibn Taimiyah dikenal dengan sifat tawadhu‘ yang sangat tinggi. Ia tidak pernah menunjukkan kesombongan terhadap siapa pun, baik terhadap orang besar maupun kecil. Ia selalu menyapa, berinteraksi, dan memperhatikan kebutuhan orang lain, terutama orang miskin dan lemah. Bahkan, beliau rela membantu mereka dengan tangannya sendiri dan mengunjungi orang sakit setiap minggu. Ia tidak merasa tinggi hati, meskipun beliau seorang ilmuwan besar dan pejuang agama. Tawadhu‘ beliau terlihat jelas dalam cara ia berinteraksi dengan orang lain, baik murid, teman, atau orang yang baru dikenalnya. [7]
Pengangkatannya sebagai pengajar
Imam Ibn Taimiyyah mengambil posisi sebagai pengajar pada usia dua puluh tahun, yang bukan hal baru bagi keluarganya yang terkenal dengan ilmu pengetahuan. Kehidupan Imam Ibn Taimiyah, tumbuh dalam keluarga yang dikenal dengan ilmu pengetahuan, serta memperoleh ilmu dari keluarganya dan ulama di zamannya sejak kecil, ditambah dengan kecerdasan yang tampak sejak muda, mempersiapkannya untuk memegang posisi pengajaran. Tempatnya telah siap, dan kursi pengajaran kosong setelah ayahnya, yang merupakan pemimpin hadis yang meninggal pada tahun 682 H. Ibn Taimiyah menggantikan posisi ayahnya setahun setelah kematian ayahnya, yaitu pada usia 22 tahun, yang membuatnya pantas menduduki posisi tertinggi dalam bidang ilmu.
Dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, serta kepribadiannya yang luar biasa, ia menjadi sosok yang luar biasa sejak kecil. “Ia sering menghadiri sekolah-sekolah dan pertemuan ilmiah sejak kecil, berdialog dan mengalahkan para ulama senior, dan memberikan jawaban yang membuat mereka terheran-heran. Ia sudah memberi fatwa sebelum berusia sembilan belas tahun, mulai mengumpulkan dan menulis karya ilmiah, dan namanya semakin terkenal di seluruh dunia. Pada tahun 681 H, ia mulai mengajarkan tafsir Al-Qur’an di masjid, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an dengan lancar dan tidak terbata-bata, dengan suara yang jelas dan fasih, yang memukau siapa pun yang hadir. Bahkan, para ulama besar pada zaman itu mengaguminya, memberikan pujian atas pengajarannya dan banyak manfaat yang didapatkan, terkejut dengan ketajaman pemikirannya dan kemampuan memahaminya dengan cepat. Seiring berjalannya waktu, ia terus berkembang dengan kualitas pribadi dan bakat luar biasa, serta ilmu yang luas. Ia mulai memberikan pelajaran di masjid besar dengan bahasa Arab yang jelas dan fasih. Banyak orang yang memperhatikannya, dan banyak yang menjadi murid-muridnya yang setia, mengikuti ajarannya. Meskipun pendengarnya beragam (baik yang mendukung atau yang menentang, pengikut sunah atau yang berpandangan berbeda), ia tetap mengajar dengan penuh semangat. Pelajarannya berfokus pada penghidupan ajaran yang diterima oleh para sahabat di abad pertama, yang menerima Islam dalam bentuk yang murni, tanpa pemikiran asing atau penyimpangan.” [8]
Wafat
Imam Ibnu Taimiyah wafat pada malam Senin, tanggal 20 Zukaidah tahun 728 H, di Benteng Damaskus, di ruangan tempat beliau dipenjara. Banyak orang yang datang ke benteng tersebut untuk melihat jenazah beliau, dan mereka diizinkan masuk untuk mengunjunginya, lalu mereka pergi. Yang tinggal hanyalah orang-orang yang bertugas memandikan jenazah atau membantu proses memandikannya. Mereka adalah sejumlah ulama dan orang saleh, termasuk Imam Al-Mizzi dan lainnya.
Setelah selesai dimandikan, benteng tersebut, serta area di sekitarnya, dipenuhi oleh orang-orang. Banyak sekali manusia yang berkumpul di benteng hingga jalan menuju Masjid Jami‘. Ketika kabar wafatnya tersebar, hampir tidak ada seorang pun di Damaskus yang mampu datang untuk salat jenazah, kecuali ikut hadir. Orang-orang menangis, memuji, dan mendoakan beliau dengan penuh rasa belas kasih.
Jenazah Imam Ibnu Taimiyah kemudian dibawa ke Masjid Jami‘ Bani Umayyah, dengan harapan masjid tersebut mampu menampung seluruh jemaah. Namun, banyak orang yang tetap berada di luar masjid karena padatnya kerumunan. Jenazahnya diusung oleh para pembesar, bangsawan, dan orang-orang terhormat, serta mereka yang merasa mendapatkan kehormatan untuk ikut memikulnya.
Setelah itu, jenazah dibawa ke tanah lapang yang luas, di mana orang-orang kembali melaksanakan salat jenazah. Jenazah kemudian diangkat di atas kepala orang-orang yang memadati, maju mundur karena derasnya arus manusia. Suara tangisan, rintihan, doa, dan pujian untuk beliau terdengar di mana-mana. Di tengah kerumunan, seseorang berteriak, “Inilah yang pantas untuk jenazah para Imam Ahli Sunah!” Hal ini membuat orang-orang semakin menangis dengan sangat.
Jenazah akhirnya dimakamkan di Pemakaman Shufiyyah sebelum waktu Asar. Diperkirakan jumlah wanita yang hadir mencapai 15 ribu orang, sedangkan jumlah laki-laki berkisar antara 60 hingga 200 ribu orang. Tidak pernah terlihat prosesi pemakaman sebesar ini kecuali untuk Imam Ahmad bin Hanbal, karena keduanya memiliki keutamaan ilmu, amal, zuhud, ibadah, meninggalkan dunia, dan fokus pada akhirat.
Salah satu tanda husnul khatimah Imam Ibnu Taimiyah adalah wafatnya beliau setelah selesai membaca firman Allah,
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَنَهَرٍ فِي مَقْعَدِ صِدْقٍ عِنْدَ مَلِيكٍ مُقْتَدِرٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman (surga) dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang Mahakuasa.” [9]
Perkataan ulama tentang Ibnu Taimiyah
Para ulama besar pada masa Imam Ibnu Taimiyah banyak memuji beliau dan memberikan sanjungan yang melimpah. Hal ini disebabkan karena mereka menyaksikan bagaimana beliau menggabungkan antara ucapan dan perbuatan, menjadi seorang imam dalam agama, sekaligus hidup dalam kezuhudan terhadap gemerlap dunia.
Mereka juga melihat bagaimana beliau senantiasa mengikuti jejak para salaf saleh, menghidupkan petunjuk mereka, dan mengibarkan panji jihad di jalan Allah. Semua ini menjadikan beliau sosok ulama yang dihormati dan dicintai oleh generasi pada zamannya.
Imam Ibnu Daqiq Al-‘Id berkata, “Ketika aku bertemu dengan Ibnu Taimiyah, aku melihat seorang lelaki yang semua ilmu berada di depan matanya. Ia mengambil apa yang ia kehendaki dan meninggalkan apa yang ia kehendaki. Aku berkata kepadanya,’Aku tidak pernah menyangka bahwa Allah masih menciptakan orang sepertimu!'” [10]
Imam Adz-Dzahabi mengatakan, “Ia adalah tanda keajaiban dalam kecerdasan dan kecepatan pemahaman, pemimpin dalam ilmu Al-Qur’an dan Sunnah serta perbedaan pendapat, samudra dalam ilmu naqli. Pada masanya, ia adalah satu-satunya yang unggul dalam ilmu, kezuhudan, keberanian, kedermawanan, amar ma’ruf nahi mungkar, serta banyaknya karya tulisnya.” Beliau juga berkata, “Ia terlalu besar untuk seseorang seperti diriku menyoroti biografinya. Jika aku disumpah di antara Rukun dan Maqam, aku akan bersumpah bahwa aku belum pernah melihat dengan mataku seseorang sepertinya, dan bahwa ia pun tidak pernah melihat dirinya seperti dalam hal ilmu.” [11]
Penulis: Gazzeta Raka Setyawan
_______
Catatan kaki:
[1] Al Bidayah wa An Nihayah, 14137.
[2] Imam Abdi Al-Hadi, Al- ‘Uqud Ad-Durriyyah, hal. 294.
[3] Al-Hafizh Al-Bazzar, Al-A‘lam Al‘Aliyyah, hal. 85.
[4] Ibid, hlm. 59-61 dengan perubahan dan diringkas.
[5] Op.cit, hlm. 41.
[6] Ibid, hlm. 53-58.
[7] Ibid, hlm. 48.
[8] Imam Ibnu Al-Waridi dalam kitabnya Tatimmu Al Mukhtashar, hal. 408 dengan perubahan.
[9] QS. Al-Qamar: 54-55.
[10] Al Imam Mar’iy Al-Karamiy, Al-Kawakib Addurriyyah, hal. 56.
[11] Ibid, hal. 62.