JANGAN TERBURU-BURU
Baca Sebelumnya: Agar Sukses Menuntut Ilmu Bagian Pertama
Bismillah…
Di serial tulisan bagian perdana Agar Aku Sukses Menuntut Ilmu (Bag.1) : Bersihkan Wadah Ilmu, Hati telah kita pelajari bahwa pemikul ilmu adalah hati. Dan hati adalah salah satu dari organ tubuh manusia. Layaknya tangan atau punggung, sama-sama organ tubuh kita, mengangkat tumpukan bata seberat 100 kg sekali angkat, dia pasti kesusahan, atau bahkan tidak kuat. Jika dipaksakan, bisa berakibat patah tulang atau cidera otot. Yang pasti, memikul beban di luar kemampuan akan membuat orang mudah patah arang. Berbeda jika bata-bata itu diangkat satu persatu, atau dua perdua, akan lebih ringan dipikul. Ia akan terus termotivasi untuk membuat tembok yang tinggi dan kokoh, dari bata-bata yang disusunnya.
Mempelajari Ilmu Secara Bertahap
Sama halnya dengan hati, pemikul ilmu. Ketika seorang belajar di luar dosisnya, maka hati akan cepat lelah, putus asa. Proses belajar tidak akan berjalan lama, rawan berhenti di tengah jalan.
Allah telah mensifati, bahwa ilmu ini berat,
إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيلًا
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS. Al-Muzammil: 5)
Belajar itu, sabar …
Belajar itu, bertahap …
Bisa anda bayangkan, seorang siswa kelas 3 SD, diajari materi kimia kelas 3 SMA, bisakah dia paham? Tentu tidak. Salah paham iya.
Oleh karena itu, mengapa ada orang yang sudah belajar Al-Qur’an, belajar hadis, tapi pemahamannya membuat kulit dahi berkerut, kepala bergeleng-geleng? Bisa jadi satu di antara sebabnya adalah karena belajar yang tidak bertahap. Semua dilahap tanpa melihat daya nalarnya. Ingin cepat jadi ulama dalam waktu yang singkat.
Benar apa kata seorang ulama di Damaskus, bernama Abdul Karim Ar-Rifa’ii,
طعام الكبار سم الصغار
“Makanan orang dewasa, bisa menjadi racun bila dimakan oleh anak balita.” (Khulashah Ta’dhimil ‘Ilmi, hal. 27)
Dalil Menuntut Ilmu Tidak Boleh Terburu-Buru
Kita perhatikan bagaimanakah proses Al-Qur’an diturunkan? Ayat per ayat. Bertahap sesuai peristiwa yang dialami oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Jadi bertahap tidak terburu-buru dalam belajar, itu adalalah metode robbani, seperti itulah Allah mengajarkan Al-Qur’an kepada Rasul-Nya Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً ۚ كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ
“Orang-orang yang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus saja seluruhnya?” Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya.” (QS. Al-Furqan: 32)
Kita perhatikan ayat ini, ternyata tergesa-gesa itu karakternya orang-orang kafir. Mereka ingin Al-Qur’an diturunkan utuh secara instan.
Adapun sabar, bertahap dalam belajar, adalah karakter Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan orang-orang beriman. Mereka sabar menerima ilmu dari Allah Ta’ala, ayat per ayat. Kemudian apa hasil dari belajar yang bertahap?
كَذَٰلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ
“ … demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya.”
Agar ilmu menancap kuat di dalam hati …
Benar apa kata Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam,
الأناة من الله تعالى، والعجلة من الشيطان
“Sikap tenang itu dari Allah Ta’ala, adapun sikap tergesa-gesa itu dari setan.” (HR. Tirmidzi)
Jika hasil dari belajar bertahap itu adalah ilmu yang menancap kuat di hati, maka hasil dari sikap sebaliknya: gegabah, ceroboh, dan ergesa-gesa dalam menuntut ilmu; juga sebaliknya, yaitu keilmuan dan pemahaman yang rapuh.
Dijelaskan oleh Syekh Shalih Al-‘Ushaimi -hafidzahullah-,
ومقتضى لزوم التأني والتدرج : البداءة بالمتون القصار المصنفة في فنون العلم, حفظا واستشراحا, والميل عن مطالعة المطولات التي لم يرتفع الطالب بعد إليها
“Wujud dari tidak tergesa-gesa dalam belajar adalah: memulai belajar agama dengan mempelajari matan-matan ringkas pada setiap disiplin ilmu agama. Dengan menghafal dan juga mempelajari penjelasannya. Kemudian tidak terjun belajar pada kitab-kitab tebal, yang sama sekali tidak akan meng-upgrade kualitas keilmuan seorang pelajar. (Khulashah Ta’dhiimil ‘Ilmi, hal. 27)
Inilah dua metode bertahap dalam belajar:
Menguasai matan-matan ringkas.
Di awal belajar, jangan terjun mempelajari kitab-kitab tebal.
Jalanilah perjuangan menunut ilmu dengan bertahap. Dimulai dari kitab-kitab ringkas, kemudian berlanjut ke tahap menengah, lanjut ke tahap yang lebih tinggi, demikian seterusnya. Jalani belajarmu dengan rapi. Jangan terburu-buru ingin belajar pada kitab-kitab yang tebal dan rumit. Karena makanan orang dewasa, bisa menjadi racun bila dimakan anak kecil. Sehari dua hari mungkin si anak bisa bertahan. Tapi di hari-hari berikutnya bisa jadi dia mati karena makanan.
Demikianlah perumpamaan orang yang tidak rapi dan terstruktur dalam belajar agama, satu dua hari, pekan, bulan … mungkin dia masih bisa bertahan. Namun setelah itu, dia akan ‘mati’ karena ilmu yang dia serap bukanlah santapannya. Matinya seorang karena ilmu adalah berhenti belajar. Makanya, mengapa orang tidak bisa istiqamah menunut ilmu agama? Padahal para ulama salaf dahulu menjalani proses menuntut ilmu sampai akhir hayat?
Jawabannya, karena cara belajar yang tidak beraturan dan bertahap.
Maka mari kita perjuangkan status penuntut ilmu ini tetap melekat sampai ajal menjemput. Karena menuntut ilmu itu ibadah. Sedangkan ibadah tidak memiliki masa ujung kecuali satu, yaitu kematian …
وَٱعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ ٱلْيَقِينُ
“Beribadahlah kepada Tuhanmu, sampai bertemu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)
Bersahabatlah dengan ilmu sampai akhir hayat. Jangan sampai menjadi “mantan penuntut ilmu”.
Raihlah Dengan Kesabaran
Bismillah…
Menjadi orang berilmu adalah cita-cita mulia. Dan sudah menjadi sunatullah di dunia ini, tak ada satupun cita-cita mulia kecuali harus diraih dengan kesabaran. Oleh karennya, hanya ada satu solusi agar seorang dapat istiqomah menggapai cita-cita mulia, yaitu mensabarkan diri untuk terus berjuang.
Di dalam Al-Quran, Allah ta’ala memerintahkan kita untuk bersabar pada dua hal,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّـهَ لَعَلَّكُمْ تُتُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imran: 200)
- Perintah sabar yang pertama, adalah sabar mewujudkan iman yang pokok.
- Kemudian sabar yang kedua, untuk mewujudkan penyempurna iman.
Ini menunjukkan pentingnya sabar, dan kita diperintah sabar, sampai bertemu Allah. Karena memperjuangkan agar iman ini semakin dan semakin sempurna; diantara yang paling urgent berjuang melalui ilmu, adalah perjuangan sampai akhir hayat. Ini juga bukti bahwa sabar itu tidak ada batasnya. Karena pahalanya pun tak terbatas.
Setelah kita sadar dan menjalani bahwa belajar itu perlu sabar, fase setelahnya pada ayat yang lain, Allah mengajak kita untuk bersabar dalam menyampaikan ilmu/mengajar,
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya. (QS. Al-Kahfi : 28)
Ini menunjukkan bahwa, kesetiaan bersama ilmu itu meliputi dua fase sabar:
Sabar saat belajar.
Sabar saat mengajar.
Saat belajar perlu sabar, karena menghafal ilmu harus sabar, memahami ilmu dan konsisten hadir di kajian, juga butuh sabar.
Saat mengajar juga perlu sabar, karena untuk betah duduk menyampaikan ilmu kepada masyarakat, perlu sabar, memahamkan mereka, perlu sabar, saat menjumpai kekurangan murid, juga harus bersabar.
Termasuk di dalam fase kedua ini adalah, mengamalkan ilmu. Karena diantara cara mengajar adalah, memberikan teladan yang baik.
Kesimpulannya, bersama ilmu, harus siap bersabar.
Syekh Sholih Al-‘Ushoimi menasehatkan,
وفوق هذين النوعين من صبر العلم, الصبر على الصبر فيهما و الثبات عليهما
“Kesabaran lebih tinggi dari dua fase sabar terhadap ilmu di atas adalah, sabar untuk bisa bersabar serta konsisten dalam sabar pada dua fase tersebut.” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 29)
Para ulama memberikan nasehat kepada kita tentang pentingnya sabar bersama ilmu:
Yahya bin Abi Katsir
Beliau menafsirkan yang dimaksud dalam surat Al-Kahfi ayat 28 di atas adalah,
هي مجالس الفقه
majelis-majelis fikih/ilmu.
Beliau juga mengatakan,
لا يستطاع العلم براحة الجسد
Ilmu ini tak akan bisa didapat dengan bersantai-santai.
_____
Referensi :
Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, cet. Ke 1, th. 1432 H / 2011 M. Karya Syekh Sholih bin Abdullah bin Hamd Al-‘Ushoimi -hafidzohullah-.
Berilmu Jangan Lupa Beradab
Bismillah…
Jika Anda diminta memilih, antara bersahabat dengan orang berilmu tapi tidak punya adab, dengan orang yang pas-pasan dalam keilmuan, tapi beradab. Anda akan nyaman bersama siapa?
Kita sama, karena jiwa kita lebih nyaman berteman dengan orang baik adabnya, walaupun pas-pasan ilmunya.
Siapa yang nyaman berteman dengan orang pintar, tapi pembohong, pintar tapi tidak amanah, pintar tapi egois, pintar tapi culas, atau pintar tapi jago korupsi. Semua tidak nyaman berteman dengan orang yang seperti ini.
Ilmu yang ada pada orang yang tak beradab, menjadi tertutupi oleh gelapnya adabnya. Sehingga ilmu tak lagi membuatnya bersinar dan tak lagi mengangkatnya. Tak ada artinya ilmu tanpa adab yang baik. Bisa dikatakan, hasil dari ilmu adalah adab dan akhlak yang baik. Ilmu seseorang bisa disebut tak bermanfaat saat tak dapat membuatnya berakhlak baik.
Benar apa yang dipesankan Makhlad bin Husain kepada Ibnul Mubarok,
نحن إلى كثير من الأدب أحوج منا إلى كثير من العلم
“Kita lebih butuh pada banyak adab daripada banyak ilmu.”
Seorang pujangga Arab membuat syair,
والمرء لا يسمو بغير الأدب
وإن يكن ذا حسب و نسب
“Seorang tak akan bisa mulia tanpa adab.
Meski dia memiliki kedudukan dan berdarah bangsawan.”
Di samping itu, ilmu yang benar-benar berkah dan manfaat itu, tak akan berkenan bersemayam di dalam hati orang yang tak punya adab. Jika benar ada ilmu yang ada padanya, itu hanya sebatas wawasan, bukan ilmu yang sebenarnya. Karena ilmu yang berkah akan membentuk karakter yang mulia pada diri pembawanya.
Yusuf bin Husain pernah mengatakan,
بالأدب تفهم العلم
“Hanya dengan adab, Anda akan memahami ilmu.”
Seorang guru, sebelum dia mengajarkan ilmunya, akan melihat mana murid yang layak ia berikan ilmunya. Ukuran kelayakan itu adalah: adab.
Dan guru akan lebih ikhlas mengajarkan ilmu, kepada murid yang beradab baik kepadanya. Sehingga ini menjadi wasilah keberkahan ilmu yang didapatkan oleh sang murid.
Oleh karenanya, para salafus shalih dahulu sangat perhatian kepada adab. Sebanding dengan besarnya perhatian mereka terhadap ilmu. Ibnu Sirin rahimahullah mengatakan,
كانوا يتعلمون الهدى كما يتعلمون العلم
“Para ulama dahulu, mereka belajar adab sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”
Bahkan mereka lebih mendahulukan penanaman adab sebelum penanaman ilmu. Imam Malik rahimahullah pernah memberi nasihat kepada anak muda dari suku Quraisy,
يا ابن أخي تعلم الأدب قبل أن تعلم العلم
“Wahai saudaraku, belajarlah adab sebelum belajar ilmu.”
Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarijus Salikin menekankan tentang pentingnya adab bagi pelajar atau penuntut ilmu,
أدب المرأ عنوان سعادته وفلاحه, وقلة أدبه عنوان شقاوته وبواره, فما استجلب خير الدنيا والآخرة بمثل الأدب, ولا استجلب حرمانهما بمثل قلة الأدب
“Adab seseorang adalah tanda kesuksesan dan kebahagiaannya. Kurang adab adalah tanda kegagalan dan kesedihan. Tak ada karunia yang paling bisa mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, melebihi adab. Dan tak ada musibah yang paling bisa menghalangi seorang dari kebaikan dunia dan akhirat, melebihi kurangnya adab.” (Madarijus Salikin)
______
Referensi :
Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, cet. pertama, th. 1432 H / 2011 M. Karya Syaikh Shalih bin ‘Abdullah bin Hamd Al-‘Ushaimi -hafidzahullah-
Menjaga Marwah Ilmu
Daftar Isi
- Bagaimana cara menjaga marwah ilmu?
التخلية قبل التحلية
- Dalil perintah menjaga marwah ilmu
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾
ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق
- Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadi
Bismillah
Orang berilmu akan memancarkan wibawa dibandingkan yang tidak. Hal ini karena ilmu benar-benar telah mengangkat martabatnya. Mari kita lihat, bagaimana ilmu benar-benar dapat mengangkat martabat, sekalipun itu makhluk sekelas hewan yang dipandang rendah; yakni anjing.
Allah Ta’ala berfirman,
يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّـهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّـهِ عَلَيْهِ
“Mereka menanyakan kepadamu, ‘Apakah yang dihalalkan bagi mereka?’ Katakanlah, ‘Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu. Kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya)’” (QS. Al-Maidah: 4).
Ayat di atas menerangkan kepada kita halalnya hewan buruan hasil tangkapan anjing yang terlatih dan disebut nama Allah Ta’ala saat melepasnya. Hukumnya menjadi halal dimakan. Maka maaf, anjing saja akan mulia karena ilmu yang melekat padanya. Terlebih makhluk paling mulia di muka bumi, yaitu manusia.
Tidak ada yang memungkiri, bahwa ilmu akan mengangkat derajat manusia yang setia memperjuangkan dan membawanya,
يَرْفَعِ اللَّـهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ ﴿١١﴾
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Jika demikian manfaat ilmu kepada kita, maka sungguh ironi, jika kita tidak menghargai marwah ilmu. Jika kita tidak setia menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan peduli lagi dengan martabatmu. Ilmu akan meninggalkanmu dan martabatmu.
Syekh Shalih Al-‘Ushoimi dalam Khulashoh Ta’dhiim Al-‘Ilmi mengutip nasihat Imam Syafi’i Rahimahullah,
من لم يصن العلم لم يصنه العلم
“Siapa yang tidak menjaga marwah ilmu, maka ilmu tidak akan menjaganya.”
Siapa saja yang tidak menjaga marwah ilmu, dengan melakukan perbuatan-perbuatan rendahan, maka dia telah merendahkan ilmu. Sehingga bisa sampai pada akibat yang fatal, yaitu hilangnya nama ilmu dari dirinya.
Wahb bin Munabbih Rahimahullah mengatakan,
لا يكون البطال من الحكماء
“Orang yang rusak moralnya, tidak akan pernah menjadi orang yang hikmah/bijak.”
Cara menjaga marwah ilmu disampaikan oleh kakek Syaikhul Islam Ahmad Al-Harrani; Ibnu Taimiyah, di dalam kitab Al-Muharrar. Lalu diikuti oleh cucu beliau dalam fatwa-fatwa beliau,
استعمال ما يجمله ويزينه وتجنب ما يدنسه ويشينه
“Dengan segala hal yang dapat memperindahnya dan menjauhi segala hal yang dapat menodai dan merendahkannya.”
Ada dua cara menjaga marwah ilmu, yaitu:
- Pertama, memperindah ilmu, dengan segala yang dapat menjadikan ilmu itu indah
- Kedua, menjauhkan ilmu dari segala yang dapat menodai kemuliaan ilmu.
Dua sisi ini, sahabat pembaca sekalian, harus terpenuhi dalam upaya menjaga marwah ilmu. Seandainya seorang hanya fokus pada “memperindah” saja, tanpa mempedulikan hal-hal yang menodai ilmu, dia belum dikatakan menjaga marwah ilmu. Atau sebaliknya, “menjauhi hal-hal yang dapat merendahkan ilmu”, dan tidak ada upaya memperindahnya, dia belum sempurna menjaga marwah ilmu. Meskipun yang kedua ini lebih baik dari yang pertama.
Jika diminta memilih upaya minimal dalam menjaga marwah ilmu, maka point kedua ini layak diprioritaskan. Artinya, jika belum mampu memperindah, maka setidaknya jangan merusak. Sebagaimana disinggung dalam kaidah yang menjadi prinsip dakwah ahlus sunnah; dan sebenarnya kaidah ini juga pepatah kehidupan,
التخلية قبل التحلية
“Membersihkan noda dahulu, baru menghias.”
Namun, tetap itu belum sempurna. Seorang penuntut ilmu selayaknya berambisi dapat menjaga marwah ilmu yang ada dalam dadanya dengan sempurna, membersihkan noda dan menghiasi ilmu.
Dalil perintah menjaga marwah ilmu
Imam Sufyan bin ‘Uyainah Rahimahullah pernah ditanya, “Anda telah mengetahui segala hukum dan hikmah dari Alquran, maka dimana perintah menjaga marwah (muru-ah) dalam Alquran?”
“Ada …” jawab Imam Sufyan Rahimahullah, Ada di firman Allah Ta’ala,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ ﴿١٩٩﴾
“Jadilah Engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf: 199).
ففيه المروءة, وحسن الأدب, ومكارم الأخلاق
“Di ayat ini, kata Imam Sufyan, ada perintah menjaga muru-ah, beretika yang baik, dan berakhlak mulia” (Khulashoh Ta’dhimil Ilmi, hal. 33).
Contoh tindakan menodai ilmu yang sering terjadi
Mencukur jenggot, tidak menjaga pandangan saat di jalan, menjulurkan kaki ketika berkumpul dengan masyarakat, tanpa kebutuhan atau darurat (seperti karena sakit), berteman dengan orang-orang yang bermudah-mudah dengan dosa atau sibuk dengan hal-hal yang sepele atau tidak manfaat.
Daftar Isi
- Teman seperjuangan dalam mencari ilmu
- Apa tujuan berteman?
Bismillah …
Teman seperjuangan dalam mencari ilmu
Bagi manusia sebagai makhluk sosial, berteman adalah kebutuhan primer. Tentu saja, seorang pelajar agama, butuh mencari teman seperjuangan. Yang ia bisa menyemangati, menginspirasi, dan membantunya dalam perjuangan mencari ilmu.
Saat Anda wahai penuntut ilmu, telah mendapatkan teman yang baik yang sama-sama berjuang mencari ilmu, maka itu adalah rezeki yang sangat berharga. Tanda bahwa kesuksesan Anda dalam menuntut ilmu, akan semakin dekat.
Syekh Shalih Al-‘Ushaimi Hafidzahullah mengatakan,
ولا يحسن بمقاصد العلا إلا انتخاب صحبة صالحة تعينه فإن للخليل في خليله أثرا
“Cita-cita mulia tidak akan bisa diraih, kecuali dengan mencari teman yang baik, yang dapat membantunya. Karena teman itu memiliki pengaruh” (Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi, hal. 35).
Dalam sebuah hadis riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ’anhu, Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Maka perhatikanlah, dengan siapa kalian berteman.”
Raghib Al-Ashfahani Rahimahullah mengatakan,
ليس إعداء الجليس لجليسه بمقاله وفعاله فقط, بل بالنظر إليه
“Pengaruh buruk teman bukan sekedar dengan ucapan atau perbuatannya, namun cukup dengan melihatnya” (Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi, hal. 35).
Ibnu Mani’ Rahimahullah di dalam kitab Irsyad At-Thullab menulis nasihat khusus untuk penuntut ilmu,
ويحذر كل الحذر من مخالطة السفهاء وأهل المجون والوقاحة وسيئي السمعة والأغبياء والبلداء, فإن مخالطتهم سبب الحرمان وشقاوة الإنسان
“Hindari berteman dengan orang-orang kurang akal, banyak melawak, tidak sopan, buruk perangai, dungu, dan keras kepala. Berteman dengan mereka hanya akan menyebabkan kita gagal” (Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi, hal. 36).
Ada tiga macam niat orang dalam berteman, sebagaimana dipaparkan Syekh Shalih Al-‘Ushaimi Hafidzahullah dalam Khulashah Ta’dhim Al-‘Ilmi:
- pertama, karena kemuliaannya;
- kedua, karena kepentingan (manfaat) duniawi;
- ketiga, karena senang dan nyaman.
Apa tujuan berteman?
Pilihlah niat yang pertama sebagai alasan dalam berteman. Yaitu bertemanlah karena kemuliaan orang yang kita jadikan teman, bukan karena kepentingan duniawi atau sekedar kesenangan atau kenyamanan. Kemuliaan di sini bukan kemuliaan materi, tapi kemulian iman dan akhlaknya.
Daftar Isi
- Menghafal
- Berdiskusi
- Bertanya
Bismillah…
Ada tiga hal yang jika diupayakan seorang penuntut ilmu, maka ilmu akan bersemai di dalam jiwanya:
- Pertama, menghafal.
- Kedua, berdiskusi dengan rekan belajar/kajian.
- Ketiga, bertanya kepada ahli ilmu
Syekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah menerangkan di dalam kitab Khulashoh karyanya,
إذ تلقيه عن الشيخ لا ينفع بلا حفظ له ومذاكرة به وسؤال عنه، فهؤلاء تحقق في قلب طالب العلم تعظيمه، بكمال الالتفات إليه والاشتغال به، فالحفظ خلوة بالنفس، والمذاكرة جلوس إلى القرين والسؤال إقبال على العالم
“Belajar kepada seorang guru (syekh, ustaz, dll) tidak bermanfaat tanpa menghafal, berdiskusi, dan bertanya kepada guru. Tiga hal itu akan mewujudkan pengagungan ilmu di dalam dada sesuai kadar totalitas mempelajarinya. Menghafal adalah khalwat seorang penuntut ilmu dengan dirinya sendiri. Berdiskusi adalah duduk bersama rekan-rekannya. Bertanya adalah menghadap kepada ulama.”
Dengan mengupayakan tiga hal di atas, seorang penuntut ilmu menjadi seimbang waktu belajarnya. Ada saat-saat dia harus menyendiri dengan dirinya, itulah saat menghafal. Ada saat-saat ia harus bersosialisasi dengan teman-temannya, itulah saat ia berdiskusi. Ada saat-saat ia harus welcome, konsentrasi kepada gurunya, yaitu saat bertanya kepada guru.
Ketiga poin di atas kita perjelas lagi dengan catatan di bawah ini:
Menghafal
Orang-orang yang sukses dalam menuntut ilmu, yakni para ulama seperti Imam Syafi’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar rahimahumullah, dan yang lainnya, perjuangan belajar mereka tidak lepas dari upaya menghafalkan ilmu. Syekh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah menyampaikan testimoni dari kegiatan menghafal beliau di masa-masa belajar,
حفظنا قليلا وقرأنا كثيرا، فانتفعنا بما حفظنا أكثر من انتفاعنا بما قرأنا
“Kami menghafal sedikit dan banyak membaca. Ternyata manfaat yang kami dapat dari hafalan lebih banyak daripada yang didapat dari membaca.”
Karena ilmu yang didapat dari menghafal, akan lebih kokoh tersimpan di dalam jiwa daripada yang didapat dari membaca. Meski kedua metode ini sangat bermanfaat. Ada ilmu yang memang harus dihafal. Ada yang cukup dengan membaca. Namun, jangan pernah menganggap sepele metode menghafal dalam belajar, kemudian mencukupkan dengan pemahaman. Manfaat menghafal bagi penuntut ilmu telah dirasakan sendiri oleh orang-orang yang telah sukses belajar.
Sering terjadi pada diri pelajar, pemahaman-pemahaman yang rinci atau detail itu bisa didapat setelah berdiskusi dengan rekan sesama pelajar. Dan pemahaman yang remang-remang menjadi terang benderang setelah berdiskusi. Tentu saja diskusi yang didasari niat yang baik, dari hati yang bersih dari egois, untuk belajar, untuk mengasah ketajaman ilmu kita, bukan untuk menang-menangan atau saling menjatuhkan. Tetapi, diskusi untuk belajar mendengar dari orang lain, menerima masukan, dan legowo mendapatkan koreksi jika ternyata pemahaman kita terbukti salah. Jika niat yang baik ini menjadi dasar diskusi, maka keberkahan diskusi akan kita dapatkan. Sebagaimana dinyatakan oleh para ulama,
وبالمذاكرة تدوم حياة العلم في النفس
“Dengan berdiskusi, kehidupan ilmu di dalam jiwa akan langgeng.”
Al-Quran sebagai ilmu yang telah Allah mudahkan. Itu saja masih perlu muraja’ah agar hafalan Al-Qur’an terjaga dengan baik. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
“Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إنما مثل صاحب القرآن كمثل صاحب الإبل المعلقة
“Sesungguhnya permisalan penghafal Al-Qur’an itu seperti pemilik unta yang untanya terikat.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam permisalkan hafalan Al-Qur’an itu seperti unta yang terikat, karena unta adalah binatang yang jika terlepas, susah ditangkap. Hafalan Al-Qur’an memiliki karakter yang sama. Jika telah lepas dengan tidak di-muraja’ah, maka menghafalnya kembali susah. Ini benar-benar kenyataan, silahkan anda bisa bertanya kepada para penghafal Al-Qur’an.
Jika demikian bentuk arahan Nabi kita shallallahu ’alaihi wasallam kepada Al-Qur’an, ilmu yang telah ditegaskan Allah Ta’ala sebagai ilmu yang Allah mudahkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mengikatnya baik-baik. Maka bagaimana gerangan dengan ilmu syar’i selain Al-Qur’an?!
Ibnu Abdil Bar rahimahullah mengatakan,
وإذا كان القرآن الميسر للذكر كلإبل المعلقة من تعاهدها أمسكها فكيف بسائر العلوم؟!
“Jika Al-Qur’an yang dimudahkan untuk diingat seperti unta yang terikat. Jika diikat, maka tuannya bisa menguasainya. Maka, bagaimana lagi dengan ilmu yang lain?!” (At-Tamhid)
Poin yang menjadi titik temu antara muraja’ah Al-Qur’an dengan motivasi untuk mempersering diskusi adalah bahwa metode menjaga hafalan Al-Qur’an yang terbaik adalah dengan menyimakkan hafalan kepada yang lain. Sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, beliau sering menyimakkan hafalan Al-Qur’annya kepada malaikat Jibril ‘alaihissalam. Maka demikianlah, cara menjaga ilmu yang paling mujarab. Paling baik adalah dengan ‘menyimakkan’ ilmu itu kepada orang lain, yaitu dengan cara diskusi bersama rekan-rekan sesama penuntut ilmu.
Bertanya
Kata Syekh Sholih Al-‘Ushoimi hafizhahullah,
وبالسؤال عن العلم تفتتح خزائنه
“Dengan bertanya, akan terbukalah perbendaharaan ilmu.” (Mukhtashor Ta’dzhiimil ‘Ilmi)
Bahkan para ulama salaf menilai bahwa baiknya pertanyaan adalah setengahnya ilmu.
Salah satu bukti nyata belajar dengan model bertanya itu sangat bermanfaat adalah tanya jawab murid-murid Imam Ahmad rahimahullah kepada beliau yang kemudian diriwayatkan dan dikumpulkan menjadi buku. Sungguh manfaatnya sangat terasa.
Betapa sering ilmu yang samar menjadi terang benderang setelah bertanya. Atau faedah -faedah tersembunyi yang tidak tertulis di kitab atau tidak tersebut di kajian bisa kita dapatkan dari bertanya. Inilah tiga hal yang bisa merawat ilmu:
Menghafal, itu ibarat menamam.
Berdiskusi, itu ibarat menyirami dan memupuk.
Lalu, bertanya itu ibarat mengembangbiakkan atau menambah ilmu.
Demikian
Waffaqanallah waiyyakum.
______
Referensi:
Mukhtashor Ta’dzhiim Al-‘Ilmi beserta Syarahnya, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi –hafidzhohullah–
Daftar Isi
1. Dalil memuliakan ulama
2. Contoh adab memuliakan ulama
3. Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru
Bismillah…
Ulama itu ibarat ayah untuk ruh, seperti bapak adalah ayah untuk jasmani. Sebagaimana dikatakan oleh ulama kita,
الشيخ أب للروح كما أن الوالد أب للجسد
“Ulama/guru/ustadz adalah ayah untuk ruh, sebagaimana bapak adalah ayah untuk jasad.”
Sebagaimana kita wajib menghormati ayah kandung, demikian pula para ustaz, kyai, atau ulama yang telah mengajarkan ilmu kepada kita juga harus dihormati.
Kita simak bagaimana keteladanan para ulama dalam menghormati guru mereka. Kita coba resapi ungkapan Syu’bah bin Hajaj Rahimahullah ini,
كل من سمعت مته حديثا فأنا له عبد
“Siapa pun yang pernah aku dengarkan hadis darinya, maka aku adalah budaknya.”
Dalil memuliakan ulama
Muhammad bin Ali Al-Udfuwi Rahimahullah mengungkap sebuah ayat yang mendasari ucapan Syu’bah Rahimahullah di atas,
إذا تعلم الإنسان من العالم واستفاد منه الفوائد فهو له عبد، قال تعالى (وإذ قال موسى لفتاه)، وهو يوشع بن نون، ولم يكن مملوكا له، وإنما كان متلمذا له متبعا له، فجعله الله فتاه لذلك
“Bila seorang belajar kepada seorang berilmu (alim), lalu dia mendapat manfaat dari ilmunya, maka dia adalah budak bagi orang alim itu. Allah Ta’ala berfirman,
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ
‘Ingatlah ketika Musa berkata kepada budaknya‘ (QS. Al-Kahfi : 60).
Budak yang dimaksud adalah Yusya’ bin Nun. Padahal sebenarnya Yusya’ bukanlah budaknya Musa. Sejatinya beliau adalah murid dan pengikut setia Musa. Namun, ternyata Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa.”
Kita semua mengenal siapakah Yusya’ bin Nun ‘Alaihissalam. Beliau juga nabi sebagaimana Musa ‘Alaihissalam. Meskipun beliau juga nabi, saat beliau berguru kepada Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Ta’ala menyebut Yusya’ sebagai hamba sahayanya Musa ‘Alaihissalam. Beliau yang nabi saja seperti itu kedudukannya di hadapan gurunya, bagaimana lagi kita orang yang bukan nabi dan bukan orang saleh? Wallahu a’lam. Oleh karena itu, kita lebih butuh lagi untuk memuliakan para guru dan ulama kita.
Islam secara tegas memerintahkan kita memuliakan para ulama. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis dari sahabat Ubadah bin Shomit Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ليس من أمتي من لم يجل كبيرنا ويرحم صغيرنا ويعرف لعالمنا حقه
“Bukan termasuk umatku, siapa saja yang tidak mengormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, atau tidak tahu hak-hak para alim ulamanya umat kami.”
Contoh adab memuliakan ulama
- Pertama, berperilaku tawadu’ (rendah hati) di depannya.
- Kedua, memperhatikan dan mendengarkan petuahnya.
- Ketiga, perhatian kepadanya.
- Keempat, berbicara santun dan sopan saat mengobrol dengannya.
- Kelima, mengharumkan nama guru saat bercerita tentangnya dengan pemuliaan yang wajar kepada guru yang juga manusia.
- Keenam, berterima kasih atau merasa berhutang budi karena ilmu yang telah beliau ajarkan.
- Ketujuh, tidak menampakkan ketidaktertarikan pada kajian atau nasihat-nasihatnya.
- Kedelapan, berhati-hati dengan tidak menyakiti beliau, baik dengan ucapan ataupun perbuatan.
- Kesembilan, mengingatkan beliau jika salah dengan cara yang santun dan lembut.
Enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru
Murid juga perlu mengingatkan gurunya dengan cara yang santun dan lembut jika gurunya melakukan kesalahan. Hal ini karena beliau juga manusia, walaupun setinggi apapun ilmu dan ketakwaannya. Manusia adalah tempatnya salah dan aib. Ada saatnya juga guru itu berbuat salah. Sebagaimana murid juga bisa berbuat salah.
Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah menerangkan ada enam sikap beradab sebagai respon terhadap kesalahan guru/ustaz, yakni:
- Pertama, tabayun atau mencari penjelasan apakah benar sang guru melakukan kesalahan tersebut.
- Kedua, berikutnya mencari penjelasan apakah benar kesalahan tersebut benar-benar tepat dinilai sebagai kesalahan. Bisa jadi sebab kesalahan yang dituduhkan adalah karena salah paham. Padahal apa yang dituduhkan kepada sang guru sejatinya bukan kekeliruan. Seperti kata penyair,
وكم من عائب قولا صحيحا # وآفاته من الفهم السقيم
“Betapa banyak orang menyalahkan ucapan yang benar, sebabnya hanya salah paham.”
Cara tabayun langkah ke dua ini adalah dengan bertanya kepada ustaz yang lain atau orang yang dipandang berilmu. Karena hanya orang berilmu yang tahu apakah kesalahan yang dituduhkan adalah benar kesalahan ataukah tidak.
- Ketiga, tetap kita katakan salah jika guru terbukti melakukan kesalahan, meskipun yang melakukan adalah orang yang sangat kita hormati dan kita pandang berilmu.
- Keempat, berusaha keras mencari alasan untuk berpikir positif.
- Kelima, menyampaikan masukan dengan cara yang santun dan lembut. Jangan bersikap dan berkata kasar, apalagi memviralkan ketergelinciran guru.
- Keenam, tidak merendahkan nama baik guru, walaupun guru telah terjatuh pada kesalahan. Tetap jagalah nama baiknya di hadapan kaum muslimin. Agar kebaikan yang beliau dakwahkan tetap bermanfaat untuk masyarakat luas.
Sekian penjelasan dari kami. Wallahul muwaffiq, semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kami dan pembaca sekalian untuk dapat memuliakan guru dan ulama.
Penulis: Ahmad Anshori, Lc.
_____
Referensi :
Khulashoh Ta’dhiimil Ilmi, karya Syekh Sholih Al-‘Ushoimi Hafidzohullah.
Penulis: Ahmad Anshori, Lc.
Artikel asli: https://muslim.or.id/