Type Here to Get Search Results !

 


BUKTI SALAFI YANG ANTI TERORISME


Sebelumnya, mungkin Anda akan bertanya-tanya: 'apa dan siapakah Salafi/Salafiyyah itu?' 

Keduanya berasal dari kata Salaf [سلف], yang secara bahasa bermakna: 'telah berlalu atau berlampau'. Nah, ditarik dari makna tersebut, secara 'pragmatis' kita bisa menyimpulkan bahwa Salafi adalah seorang yang tersifati sebagai pengikut masa lampau dan Salafiyyah adalah sebuah pemikiran atau ideologi yang berikatan erat dengan masa lampau. Kesimpulan di atas meski belum menyentuh kebenaran mutlak, namun sudah mendekat kepada kebenaran. Karena sejatinya, [langsung saja saya katakan] bahwa Salafi adalah orang yang mendasari kehidupannya sesuai dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah [hadits Nabi] dengan pemahaman kaum Salaf. Dan Salafiyyah adalah pemikiran atau cara sikap beragama yang berdasarkan pada Al-Qur'an dan As-Sunnah [hadits Nabi] dengan pemahaman kaum Salaf. Siapakah kaum Salaf? 

Kaum Salaf yang dimaksud adalah mereka yang telah Nabi Muhammad -Shallallahu alaihi wa Sallam- rekomendasikan di haditsnya yang agung: 

خير القرون قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم 

"Sebaik-baik generasi adalah generasi [di zaman] ku, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya." [H.R. Bukhary dan Muslim] 

Jadi, manhaj atau tata pemikiran salafi mengacu pada manhaj tiga generasi tersebut, yaitu generasi Sahabat, Tabi'in dan Tabi'ut Tabi'iin. Ulasan mengenai Salafiyyah sendiri bisa berbentang panjang. 

Baca juga: Menjadi Salafi mengapa tidak?

Ada sebuah kasus belakangan ini, yang merupakan kesalahan sebuah pewartaan di TV One, menyeruak dan cukup bingar di kalangan saudara-saudara kita dari kalangan Salafi. Saya meminjam tulisan deskriptif dari saudara Hendi Setiawan:

"Dua hari lalu TVOne menyiarkan berita penangkapan terduga teroris bernamaBaderi, lengkap dengan ilustrasi foto yang bersangkutan.  Ternyata TVOne melakukan hal fatal, foto yang ditayangkan bukannya foto teroris yang dimaksud, tapi foto seorang dosen Sekolah Tinggi Agama Islam di Jember, bernama lengkapDr Muhammad Arifin Badri, seorang doktor agama Islam lulusan Arab Saudi.  Pak Badri yang satu ini bukan terduga teroris yang ditangkap Densus 88 Polri. Kesalahan penayangan foto ini sangat fatal dan sangat merugikan Dr Muhammad Arifin Badri.  Pak Badri yang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam di Jember, juga mengajar di sebuah Sekolah Tinggi Agama Islam di Surabaya dan Universitas Muhamadiyah Surakarta, ternyata malahan bertolak belakang aktivitasnya dibanding seorang teroris.  Alih-alih berbuat yang merugikan masyarakat, pak dosen saat mengajar justru menganjurkan hal sebaliknya, ia mengingatkan terorisme yang mengatasnamakan Islam itu tidak benar, ada kesenjangan memahami Quran dan Hadis pada sekelompok masyarakat kita, demikian pendapat pak Badri." 


Dan alhamdulillah, petang ini dengan ksatria dan sikap bertanggung jawab pihak TV One mengkonfirmasi secara langsung permintaan maaf pada beliau dan juga umat Islam akan kekhilafan yang telah diperbuat sebelumnya. Bonus yang menggembirakan adalah pihak TV One mengundang langsung beliau untuk berbicara bermenit-menit perihal sikap dirinya terhadap terrorisme, yang mau tidak mau mencerminkan pula sikap siapapun dari Muslim yang 'se-aliran' dengan beliau. Dengan penuh ketenangan dan kewibawaan, beliau menjelaskan sikap Islam terhadap terrorisme. Meskipun beliau adalah spesialis di bidang Fiqh, bukan berarti kesempatan untuk berbicara mengenai terrorisme dan ekstrimisme tertutup begitu saja. Karena, seperti yang diutarakan Dr. Muhammad Arifin Badri, ilmu syariat itu satu paket dan tidak parsial. Jadi, terrorisme itu berkaitan dengan ideologi. Sehingga, untuk menangkal bibit pemikiran terrorisme secara preventif, kita harus meluruskan dulu kesimpangan ideologi, yang dalam ilmu Syariat dikenal dengan nama: Aqidah Islamiyyah. Begitu juga dalam menyikapi eksistensi non-muslim, beliau menjelaskan bahwa tiap individu non-muslim tidak bisa disamaratakan. Tujuan pembelajaran syariat Islam adalah untuk mengetahui hukum-hukum ilahiyyah yang suci; tanpa ekstrimisme dan juga tanpa kompromi yang terlalu longgar. Sehingga dapat menghadirkan kerukunan, keadilan dan kesejahteraan, meskipun tanpa adanya partai.

Dalam syariat Islam, kata Dr. Muhammad Arifin Badri, non-muslim [baca: kafir] terbagi menjadi 3. Pertama: Kafir Harby, yaitu orang non-muslim yang terang-terangan menyerang Islam dan pemeluknya. Maka, mereka layak dilawan, ditentang dan dimusuhi. Kedua: Kafir Ahdy, yaitu orang non-muslim yang melakukan perjanjian dengan orang muslim untuk hidup damai dan rukun di suatu negeri. Dan inilah yang berlaku untuk negeri kita. Orang non-muslim memiliki hak dan haram untuk dizalimi, meskipun sekadar pedang lisan. Ketiga: Kafir Musta'min, yaitu orang non-muslim yang datang ke daerah kekuasaan orang Muslim untuk meminta keamanan. Untuk jenis ketiga ini, maka orang muslim wajib memberi keamanan pada non-muslim.

Nah, konsep atau pembagian tersebut sedianya tidak berlaku bagi para muslim terrorist; karena mereka cenderung menyamaratakan semua non-muslim adalah layak dibunuh dan disakiti. 

Dan, Salafi Tidak Seperti Itu, karena Salafi justru menentang Terrorisme dan ekstrimisme, bahkan juga menentang hal-hal yang memicu keduanya. Karena Salafiyyah berada di sebuah lembah antara dua bukit. Lembah tersebut bernama 'keadilan'. Di satu sisi ada sebuah bukit berwujud ekstrimisme, di sisi lainnya berbukit permisifme atau liberalisme. Maka, siapapun dari manusia layaknya berada di tengah dan berjalur menengah. Adapun jika Anda menemukan seseorang yang mengklaim dirinya sebagai pengikut Salafiyyah, sementara menurut Anda ia bersikap ekstrim, maka pasti ada kesalahan. Bisa jadi kesalahan orang tersebut [karena sikap ekstrimnya yang mungkin disebabkan salah memahami ajaran atau terlalu bersemangat], dan bisa juga justru kesalahan Anda dalam memandang. Karena bisa saja bagi Anda itu ekstrim, namun bagi syariat itu adalah kewajaran. Maka, mari, kita sama-sama mengaca dan belajar untuk memahami. Jika Anda menyaksikan penjelasan beliau di TV One, maka saya harap-harap tanpa kecemasan, bahwa beliau adalah orang yang menengah. Terbukti pula ketika beliau mengatakan, yang intinya: 'Kami ingin menjadi partner pemerintah dalam memberantas terrorisme!' Dan sikap seperti itu bukan hanya tampilan semata karena di siaran televisi, melainkan sikap menengah itulah yang beliau ajarkan ketika di pengajian dan studi kampus dalam keseharian. Saya pribadi -tanpa melabeli diri sebagai ini atau itu dan tanpa merasa lebih baik dari siapapun- berharap dengan tulisan singkat ini dapat memberi -at least- gambaran kecil bahwasanya Salafi [atau seringkali 'dijuluki' Salafi-Wahabi] bukanlah sebuah aliran ekstrim dalam Islam. Semoga mencerahkan. Wallahu'alam.

Oleh: Hasan Al Jaizy

https://www.kompasiana.com/

AHLUS SUNNAH DAN TERORISME 


Oleh Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr 

Kedatangan Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr dari Negeri Syam (Yordania) di kota Solo, dalam rangka muhibbahnya ke beberapa kota, di antaranya Solo dan Yogyakarta, alhamdulillah telah menambahkan pemahaman di dalam beragama, khususnya kepada Salafiyin, dan kaum Muslimin pada umumnya. Dari sesi tanya jawab, nampak beragamnya persoalan atau perkara-perkara yang ingin diketahui kaum Muslimin. Di antaranya persoalan yang kembali muncul ke khalayak, yakni issu global tentang terorisme. Sebuah ironi, Salafiyin tak kurang mendapatkan tuduhan semacam. Padahal Salafiyin berlepas diri dari sikap ekstrim seperti itu. Bagaimanakah pandangan Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr menanggapi issu terorisme yang diarahkan kepada Salafiyin? Berikut adalah penjelasan beliau –hafizhahullah– menanggapi pertanyaan tersebut saat muhadharah di Masjid al Karim, Pabelan, Sukoharjo, Surakarta pada hari Ahad, 20 Muharram 1427H/19 Februari 2006M. Penjelasan beliau ini ditranskrip dan diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief Budiman bin Usman Rozali dengan memberikan beberapa catatan kaki yang diperlukan. Semoga bermanfaat. (Redaksi) 

Tentang tuduhan terorisme yang diarahkan kepada Salafiyin, Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr memberikan tanggapan: 

Saya (Syaikh Dr. Muhammad bin Musa Alu an Nashr, Red) katakan : Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul ghuluw (berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah salafiyah. Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah salafiyah adalah dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.[1] Namun demikian, tidak boleh seorang salafi (siapapun orangnya) menganggap dirinya berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau akhlak para sahabatnya. 

Dakwah salafiyah berdiri di atas aqidah yang benar, aqidah yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berkeyakinan dengannya. Dakwah salafiyah tegak di atas manhaj (jalan, metode, tata cara) Islam yang benar dan lurus, berdiri di atas dalil. Dakwah ini benar-benar mengagungkan as salaf ash shalih (generasi terdahulu yang shalih), dari kalangan para sahabat dan tabi’in. Dakwah ini mengagungkan dan menghormati dalil, (berupa) firman Allah dan (sabda) RasulNya, tidak mengutamakan dan mengedepankan perkataan siapapun (di atas perkataan Allah dan RasulNya) betapapun tinggi derajat dan kedudukan orang itu. Dakwah salafiyah menyeru kepada Allah, kepada ajaran Islam yang benar, seimbang dan adil. Menyeru kepada kelemah-lembutan dan menolak kekerasan. Maka, menuduh dakwah salafiyah sebagai terorisme adalah dusta! 

Karena, siapakah yang benar-benar menentang para teroris dan takfiriyin (orang-orang yang sangat mudah mengafirkan orang lain tanpa sebab yang haq) saat ini? 

Siapakah mereka kalau bukan para ulama dakwah salafiyah? Mereka, yang pada zaman ini dikenal sangat gigih membela dan berdakwah dengan dakwah salafiyah ini. Yang paling dikenal di antara mereka, seperti al Imam al Muhaddits asy Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, kemudian asy Syaikh al ‘Allaamah Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baaz, asy Syaikh al ‘Allaamah Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin. Kemudian murid-murid al Imam al Muhaddits asy Syaikh Muhammad Nashiruddin al Albani, dan murid-murid mereka semua. 


Merekalah yang jelas-jelas nyata paling menentang dan membantah pemikiran terorisme ini, baik dengan tulisan-tulisan di dalam kitab-kitab mereka, kaset-kaset kajian ilmiah mereka, dan dari seputar kajian-kajian ilmiah mereka secara langsung. Hal ini diketahui oleh setiap munshif (orang yang adil dalam menghukumi). 

Adapun mukabir (orang yang sombong dan keras kepala) dan orang yang mendustakan kenyataan mereka semua, maka sesungguhnya dia merupakan generasi (pelanjut) dari tokoh-tokoh (penentang) terdahulu, (yaitu orang-orang) yang menuduh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, orang gila, pemalsu dan pembuat al Qur`an, pendusta. Mereka hanya menuduh, menuduh, dan terus menuduh (tanpa haq dan bukti yang benar). 

Namun inilah taqdir para nabi, mereka selalu didustakan oleh sebagian umatnya. Allah berfirman: 

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِّن قَبْلِكَ فَصَبَرُواْ عَلَى مَا كُذِّبُواْ وَأُوذُواْ حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا. 

"Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka". [al-An’am/6: 34]. 

Oleh karena itu, demikianlah keadaan para da’i yang berdakwah kepada Allah, keadaan para penuntut ilmu agama. Mereka akan selalu mendapatkan halangan dan rintangan serta hambatan dari orang-orang sesat, ahli bid’ah, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah. Mereka akan disakiti oleh para penentang itu. 

Para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, (mereka) tidak akan pernah berhenti melancarkan usaha-usaha keji (yang mereka buat), berupa provokasi, menaburkan bibit-bibit pertikaian dan permusuhan di kalangan masyarakat, sehingga para da’i yang ikhlas berdakwah kepada Allah dan para penuntut ilmu agama, (mereka) akan selalu mendapatkan rintangan ini. 

Ada dua pondok pesantren yang bermanhaj salaf di sebuah pulau. Setelah para ahli bid’ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah ini mengetahui keberadaan dua pondok pesantren ini, mereka segera menghasut masyarakat setempat, dan akhirnya merekapun berhasil menghancurkan dan memporakporandakan ke dua pondok pesantren ini. 

Tidak ada yang memicu mereka untuk melakukan tindakan keji ini, melainkan hasad, dengki dan kebencian yang membakar dada-dada mereka terhadap para da’i dan para penuntut ilmu agama yang benar dan lurus. 

Demikianlah, karena orang sesat memang tidak akan pernah mencintai kebenaran dan ahlinya! 

Betapapun demikian, orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf, pasti akan tetap selalu ada. Mereka selalu konsisten di atas prinsipnya dalam berdakwah. Tidak berpengaruh tindakan-tindakan orang yang berusaha berbuat madharat terhadap mereka, juga orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: 

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِيْ ظَاهِرِيْنَ عَلَى الْحَقِّ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ. 

"Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mempedulikan mereka) sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian. [2] 

Dan golongan ini, para ulama telah menafsirkan, bahwa mereka adalah ahlul hadits dan ahlul atsar (yaitu orang-orang yang konsisten mengikuti hadits-hadits dan jejak para as salaf ash shalih). 

Maka, saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi. Saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi.[3] Hendaknya setiap muslim bermanhaj, seperti apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebuah manhaj yang tidak berpihak kepada personal tertentu, atau kepada jamaah-jamaah tertentu. 

As salafiyah bukanlah bayi perempuan yang baru terlahir sekarang. Bukan pula sebuah organisasi yang baru didirikan saat ini. As salafiyah adalah ajaran yang turun dari Allah, berupa wahyu yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi r bersabda kepada putrinya Fathimah[4] Radhiyallahu anha tatkala ia meninggal dunia : 

اِلْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ. 

"Bergabunglah bersama pendahulu kita yang shalih, Utsman bin Mazh’un[5] 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata (yang maknanya): “Bukan (merupakan) aib, jika seseorang menisbahkan (menyandarkan) dirinya kepada salaf, karena manhaj salaf adalah (manhaj yang) a’lam (lebih berilmu), ahkam (lebih bijak dan berhukum), dan aslam (lebih selamat)”. 

Karena jika tidak demikian, bagaimana kita bisa merealisasikan   مَا أَناَ عَلَيْهِ وَأَصَحَابِيْ  ?! 

Lihatlah! Sekarang banyak jamaah dengan bermacam-macam pola mereka, ada yang ke barat, ada yang ke timur. Semuanya mengikuti jalannya masing-masing yang berbeda-beda. Kecuali, hanya dakwah salafiyah yang diberkahi Allah ini. Golongan inilah yang tetap konsisten berpegang teguh kuat-kuat dengan apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya. 

Oleh karena itu, saya memohon kepada Allah agar mereka -baik para da’i, para penuntut ilmu, dan orang-orang yang bermanhaj salaf ini- senantiasa diberikan kemudahan dan keutamaan dariNya, dan agar mereka dijadikan olehNya generasi-generasi terbaik pewaris mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang berkenan mengabulkan do’a ini dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidaklah ada seorang yang menentang dakwah yang haq ini, melainkan Allah pasti akan membinasakannya. Karena Allah akan selalu membela orang-orang yang beriman (yang membela agamaNya). 

Karenanya, seluruh model dakwah apapun (di muka bumi ini) yang berusaha menghalang-halangi, menentang, dan merintangi dakwah salafiyah, usaha mereka pasti sia-sia dan gagal. Bahkan yang mereka dapatkan hanyalah kerugian dan penyesalan. Sedangkan Allah senantiasa membela dan menolong dakwah salafiyah ini, karena Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela agamaNya, sebagaimana firmanNya: 

 وَلَيَنصُرَنَّ اللَّهُ مَن يَنصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. 

Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [al Hajj/22:40]. 

Demikianlah, akhirnya saya cukupkan jawaban saya sampai di sini. Saya berharap bisa bertemu dengan kalian pada kesempatan yang lain, insya Allah. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Baca juga: 

  1. Teroris bukan mujahid, bukan pula mujtahid
  2. Jaringan dan aksi terorisme di Indonesia
  3. Membongkar kesesatan Ikhwanul Muslimin
  4. Siapakah pembangkit radikalisme dan terorisme modern ditengah umat Islam?

Sumber: https://almanhaj.or.id/

Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.